Feeds:
Posts
Comments

ayo diorder! Jaket SMANSA Muslim Brotehrhood nya sebagi bentuk dukungan program pembinaan SMANSA============================ Cara pemesanan============================

  • SMS : Nama_ukuran jaket ke EKA 085880483647
  • Pemesanan dilakukan paling lambat tgl 4 Agustus2012 Continue Reading »

Puji syukur atas kehadirat Allah, Tuhan semesta alam yang telah memberikan begitu banyak NIKMATNYA untuk Kita semua.

Sebelumnya mohon maaf apabila merasa jijik atau kurang enak jika mendengar istilah-istilah kesehatan yang akan dijelaskan dalam tulisan ini. Sebenarnya namanya lucu, bagus, dan imut. Tapi kalau dibayangkan, bagi yang merasa jijik, -yaa, mungkin bisa ga makan selama satu hari  atau lebih- Namun, saya tak ingin berlama-lama dalam prolog ini. Intinya dalam tulisan ini saya hanya ingin menekankan bahwasannya kita harus bersyukur. Sederhana saja.

Rumah Sakit Raden Said Soekanto atau yang lebih dikenal dengan Rumah Sakit POLRI adalah sebuah Rumah Sakit dimana saya praktik saat itu. Masih ingat tragedi SUKHOI??disanalah para korban diidentifikasi, dites DNA untuk kemudian dicocokkan dengan para pelapor dari keluarga korban yang diduga berada di pesawat SUHKOI JET 100 itu. Hancur, lebur! Katanya. Korbannya sulit diidentifikasi. Pernah, Sang Inspektur bertutur dalam apel rutin pagi,  “korban sangat sulit diidentifikasi, ditemukan mayat dari kepala sampai pinggang, tapi tanpa tulang”. Dalam hati berkata “masya Allah”..rembes hati ini rasanya. Entahlah, bagaimana perasaan para keluarga korban.  Semoga diberikan ketabahan. Tapi, sebenarnya bukan SUKHOI yang ingin saya ceritakan. Meskipun banyak hikmah yang bisa kita ambil dari peristiwa tersebut. Melainkan kisah lain, kisah seorang lansia asal Jawa Timur, usia nya entahlah berapa tahun tepatnya, ketika ditanya –mungkin –jawabnya  sama seperti nini, aki, mbah, eyang Kita “pokoknya nenek lahir pas zaman penjajahan Jepang”. Ya begitulah kiranya. Harap maklum.  Inisialnya M, saya menyebutnya “Mbah” terkadang jikalau lupa menyebut Mbah, maka saya sebut hanya dengan panggilan “Nek”

“Mbah, sakit apa?keluhannya apa mbah, ada yang dirasa ga enak mbah?” saya bertanya. Mbah, hanya diam. Oh..rupanya tak mengerti. Mbah hanya mengerti bahasa Jawa toh. Kebetulan ada cicitnya menunggu. Di-translate-lah dari bahasa Indonesia ke bahasa Jawa. Lalu, datanglah perawat di ruangan yang merawat si Mbah. Dari statusnya, Mbah terdiagnosa DM + Gangren. DM adalah diabetes melitus. Istilah awamnya penyakit gula atau kencing manis.  Kalau Gangren, namanya bagus kan?hehe. tapi ternyata tak sebagus aslinya. Gangren adalah luka yang mengalami nekrosis (kematian jaringan/sel). Jadi, pada pasien DM yang sudah tahap neuropati (tidak dapat merasakan nyeri) seringkali mengalami luka yang dia sendiri ga tau kalau ternyata dia terluka. Lah, wong ga ngerasain nyeri! Pernah saya merawat luka seorang Ibu penyandang DM juga. Ia memiliki luka seperti ditusuk paku. Nah, luka yang sekecil ini saja kalau tidak segera ditangani bisa parah seperti Mbah yang ceritanya nanti saya akan jelaskan setelah ini. Luar biasa pokoknya kisah si Mbah. Oke balik lagi ke yang Ibu penyandang DM juga yaa. Si Ibu ini punya luka di kaki “sus, pencetnya dari bawah ya.  Biasanya suster yang lain juga gitu, nanti combronya pada keluar deh” kata si Ibu. “iya bu, dari sini ya?” saya ragu-ragu ingin memencetnya. “iya sus, udah ga usah grogi gitu” si Ibu sambil tertawa. Maklum, jam terbang belum tinggi. Lalu, saya pencet lah kaki yang luka, biar –combro –nya pada keluar (combro= nanah. Tapi ini bukan istilah medis ya! Ini hanya bahasa Ibunya saja). “sus, pencetnya yang kencang aja, sekencang apapun suster pencet saya juga ga akan sakit sus!” saran si Ibu. Dalam hati, “bu, ini saya udah sekuat tenaga loh mencetnya, kok bisa ga sakit ya”. Ya begitulah kiranya. Dan berarti, terhadap rasa sakit pun, Kita harus senantiasa bersyukur. Tanpa sakit, bagaimana Kita akan menyelesaikan masalah. Sakit itu adalah masalah. Kalau kita sakit, tapi tidak merasa sakit, bagaimana bisa mengenali masalah dan menyelesaikanya. Hingga pada akhirnya akan berujung kepada kematian! Seperti pada penderita Familial Dysautonomia. Ini merupakan kelainan saraf. Sehingga ia tidak bisa merasakan adanya respon nyeri. Saking, penasaran sakit itu seperti apa, ia sering kali menjatuhkan tubuhnya, melukai tubuhnya, hingga akhirnya mengalami perdarahan, dan berujung pada kematian! Jadi, bersyukurlah atas rasa sakit. Karena dengan begitu Kita akan bisa mengenali masalah kemudian akan menyelesaikannya.

Balik lagi ke si Mbah. “Mbah, perbannya dibuka ya?” kata perawat. Hmm..luar biasa..dari jarak satu meter luka si Mbah sudah mulai menyebarkan aroma tak sedap ketika perbannya dibuka. Mencoba untuk tetap stay cool.  Perban sudah dilepas dari kaki kanan si Mbah bagian telapak kaki sampai mata kaki. Dan, rasanya ingin menangis. Jikalau membayangkan itu adalah kaki sendiri. Ya Allah, semoga Engkau mencabut segera penyakit si Mbah ini. Ya, kaki kanan si Mbah, mengalami gangren sudah parah sekali. Tulang kaki nya sampai terlihat jelas. Seperti ceker ayam yang digerogoti kulitnya. Nanahnya, ada dimana-mana. Darahnya, mengelilingi bagian tengah dari nanahnya. Sungguh mengerikan! Ibu jari kakinya sudah hilang mengalami nekrosis (kematian sel/jaringan), bagian jari telunjuk kaki dan tengah sudah berwarna hitam. Alamat berujung seperti ibu jari kakinya. “Mbah, sing sabar ya” tangisan cicitnya sambil mengelus kening si Mbah. Perawat pun mengganti perban si Mbah. Dan sebelum itu, kaki kanan si Mbah di siram dengan H2O2 (peroksida), lalu berbusalah nanahnya dan rontok. Meskipun pada akhirnya harus digunting terlebih dahulu bagian-bagian dari kulit yang dibalut nanah tersebut. Begitulah gambaran dari luka yang dimiliki oleh si Mbah.

Ketika dikaji, awalnya luka tersebut karena si Mbah hanya “tersandung”. Namun, tak merasa sakit. Tapi kok bagian ibu jarinya terluka, lalu dibawalah si Mbah ke salah satu rumah sakit di Jawa. Karena kasus “tersandung” tersebut Mbah sempat dirawat selama 1 minggu disana. Dan ternyata, lama kelamaan. Ibu  jari kaki si Mbah dijahit. Lama kelamaan, lukanya menjalar hingga lebarnya dari jempol sampai kelingking serta panjangnya hampir sampai ke mata kaki. Proses penyembuhan luka yang lama dan hingga pada akhirnya malah bertambah parah diakibatkan karena si Mbah memiliki penyakit DM (Diabetes Mellitus). Pada kasus DM, kadar gula dalam darah meningkat sehingga aliran darah yang menuju ke bagian perifer (tepi) menjadi lambat. Akibatnya oksigen serta nutrisi yang dibawa oleh darah berkurang. Padahal oksigen dan nutrisi adalah faktor yang berfungsi untuk mempercepat proses penyembuhan luka. Ditambah sensor nyeri pada si Mbah juga sudah berkurang, lagi-lagi akibat dari penyakit DM tersebut. Akhirnya mbah tidak bisa kemana-mana, dan harus dirawat di rumah sakit dalam waktu yang lama. Kini, Ibu jari kaki si Mbah sudah harus diamputasi, dan dengan jari-jari yang lain mungkin akan beralamat sama dengan jari jempolnya. “Mbah, sing sabar yaa” ucap cicit yang menungguinya

Ingin terus mengulang-ulang kalimat “bersyukurlah atas rasa sakit” karena dengan sakit kita bisa mengetahui adanya penyakit. Dan akhirnya bisa kita tangani segera. Terkadang diri kita sering kali mengeluh atas rasa sakit yang kita derita. Sakit pun kini, bukan hanya sebagai bentuk kesabaran melainkan ia bisa menjadi kesyukuran jika kita dapat memaknainya lebih dalam. Baik secara lahir maupun batin. Mungkin seringkali kita merasa tersakiti oleh orang lain. Karena perlakuan yang begini, begitu, pokoknya yang tidak menyenangkan bagi kita. Seringkali kita menaruh dendam, iri, marah, dsb. Nah, seperti ini yang nantinya akan berujung pada kematian. Kematian hati. Naudzubillah’. Sebenarnya jikalau kita merasa tersakiti, hal tersebut tentu bisa menjadi pelajaran bagi kita. Setidaknya anggaplah orang yang telah menyakiti kita sebagai guru bagi kita. Bahwa ia telah memberi contoh tingkah lakunya yang tidak baik. Dan sejatinya kita mengetahui kelakuannya adalah suatu yang salah, maka ia telah mengajarkan pada kita agar tidak berlaku seperti itu. Karena kita sangat paham apabila kita berlaku seperi apa yang ia lakukan, maka kita akan membuat orang lain merasakan sakit seperti apa yang kita rasakan. Sakit yang pada akhirnya kita rasakan akan mampu memberikan kita kebijaksanaan. Dan semakin membuat diri kita berhati-hati dalam berinteraksi dengan manusia lain. Mungkin sering mendengar ungakapan seperti ini “ Ibarat cangkir pecah yang kemudian disatukan kembali dengan sebuah lem, meskipun masih bisa digunakan kembali tetapi bekas pecahannya akan selalu membekas”. Begitulah, hidup ini. Meskipun kita telah dimaafkan oleh orang lain atas kesalahan yang kita perbuat, tapi siapa tahu kesalahan kita ternyata tetap membekas di hati orang yang kita sakiti tersebut.  Dan semoga kita menjadi orang yang senantiasa menjaga diri agar seminimal mungkin bahkan tidak sama sekali menyakiti hati orang lain. Dan semoga atas rasa sakit yang kita alami dapat dimaknai bukan hanya sebagai bentuk kesabaran melainkan juga kesyukuran kepada Allah, Rabb semesta alam. Karena di setiap sakit yang kita rasakan, InsyaAllah terdapat hikmah di dalamnya.

Allah, lapangkanlah hati kami. Agar kami mampu untuk memaafkan setiap kesalahan dan menjaga diri ini dari kesalahan. Bagaikan lautan luas yang diberikan sesendok kopi pahit, maka lautan itu tak akan terasa pahitnya. Namun, jikalau hanya secangkir air diberikan sesendok kopi pahit, pastilah ia akan terasa pahitnya

Allah, murah hatikanlah kami. Seperti Nabi Muhammad yang tetap bermurah hati pada seorang yahudi buta yang telah menghina Beliau, hingga ketika Beliau wafat bersyahadatlah Yahudi tersebut

“Allah, bijaksanakanlah kami. Agar kami mampu mengambil hikmah atas setiap masalah-masalah yang kami hadapi. Karena, -katanya- orang-orang besar lahir dengan masalah-masalah besar.”

“Allah, jadikan bumi yang kami tapaki selalu subur karena kebermanfaatan, dan langit yang menaungi menjadi tersenyum atas apa yang kami lakukan”

“Yaa Rabb, selalu tunjuki kami jalanMu yang lurus. Hantarkan kami selalu kepada cahayaMu. Kami sadar banyak noda-noda di hati kami. Kami mohon padaMu, berikan kami kepekaan  untuk menyadarinya sehingga dapat membersihkannya. Agar cahayaMu tetap dapat menerangi hati ”

“Yaa Rabb, gugurkanlah, rontokkanlah, dan tumbangkanlah dosa kami atas segala rasa sakit yang kami terima, baik secara lahir maupun batin”

“Yaa Allah, kepada siapa lagi kami menyembah kalau bukan kepadaMu. Yaa Allah, kepada siapa lagi kami memohon pertolongan kalau bukan kepadaMu. Kabulkanlah permohonan kami yang hina, dina, dan lemah ini. Amiin”

-Mbah, terima kasih atas pelajarannya hari ini-

RS

Wallahu alam bishowab

Depok, 7 Juni 2012 pukul 14:06

Saya merasa dunia semakin tidak aman untuk ditinggali. Sempat bahkan merasa hopeless untuk bermimpi macam-macam. Yaudahlah ngapain ngimpi tinggi-tinggi, emang bakalan nyampe? Dengan berbagai berita mengabarkan kalo pada tahun 2030 ribuan pulau di Indonesia ngilang, pada tahun sekian bumi akan blabla, tahun ini bakal tenggelam, pulau-pulau di Indonesia ngilang, ozon bolong, air bersih menipis, es di kutub mencair, bretetetetet (efek buwanyaknya mata kuliah yang membicarakan tentang isu lingkungan). Fakta-fakta itu selain membuat pengetahuan saya bertambah di sisi lain membuat harapan saya bertambah pupus. Gemetar deg-degan takut- semua rasa bercampur jika saya membayangkan tentang nasib orang-orang dengan jangka usia yang terlihat masih panjang, seperti saya, kelak.

Pada suatu malam adik saya pernah berkata “kak icha, nanti kalo adek udah mau nikah, semuanya udah pada meninggal ya?”  berkaitan dengan hal ini, saya berpikir wah iya bagaimana nasib adik2 saya kelak? Apa mereka sanggup bertahan dengan suhu yang semakin panas? Dengan jumlah air bersih yang semakin terbatas? Dengan berbagai penyakit endemik aneh? Saya bisa merasa aman mungkin saya bisa jadi telah tiada, anda mungkin juga bisa begitu, tapi bagaimana dengan adik2, anak2, saudara2 lain yang merasakan? Saya benci sekali dengan orang yang dengan enaknya membuang sampah sembarangan, membeli kendaraan bermotor tanpa memasukkan pertimbangan nasib seluruh umat nantinya. Saya benci dengan izin-izin penebangan hutan oleh pemerintah kepada perusahaan swasta bejat. Dengan mudahnya uang bisa membeli jiwa generasi mendatang. Saya benci dengan diri saya yang terkadang lalai. Saya pesimis sekali. Saya tahu kiamat pasti datang. Yasudahlah saya bisa saja diam sampai kiamat datang.

Tapi pikiran itu berubah.

Saya mulai merasa optimis ketika saya membuka diri untuk mengikuti kegiatan kelingkungan yang membuat mata saya terbuka. Ternyata masih banyak sekali orang yang sebegitu mengabdinya pada masyarakat dan lingkungan sampai rela mengorbankan dirinya, hartanya, apapun. Sebut saja ahmad. Dia adalah aktivis sungai ciliwung daerah menteng. Jika dilihat dari tampang sangat tidak menunjukan kompetensinya. Namun ternyata beliau adalah pendiri suatu komunitas sungai ciliwung yang sampai saat ini disponsori c*ca c*la atas dedikasinya. Beliau juga sampai saat ini bahkan berkuliah di 2 universitas secara bersamaan. Namun ia berkata pada saya bahwa ia tidak ingin memakai gelar apapun di belakang namanya. Ia ingin tetap ‘bersahaja’. Setiap hari dia membersihkan sampah di ciliwung. Saya sangat heran padahal sampah pasti bertumpuk setiap hari, bukankah ia seharusnya preventif bukan kuratif? Ternyata dia berkata “saya sih udah bikin penyuluhan dan kegiatan lingkungan juga buat warga sini, tapi kan gak bisa langsung, dan sampah ini bukan warga sini aja yang buang. Ngalir. Saya cuman tau mesti bersihin aja.” Saya malu sekali. Disaat saya merasa hopeless, merasa ingin pasrah saja ternyata banyak sekali orang diluar sana yang tetap berikhtiar. Ketika saya mengunjungi suatu masjid, ada sebuah poster di depan masjid itu “Tanamlah satu pohon walaupun esok hari kiamat (hadist)” (Saya tidak pernah mendengar bunyi hadist itu sebelumnya tolong diluruskan sumbernya). Terlepas dari itu, saya serasa ‘ditampar’ Allah..

Saya bukan penggiat lingkungan, saya bukan ahli ilmu alam, ataupun penulis profesional. Saya hanya merasa memiliki kewajiban untuk saling mengingatkan tentang bahaya besar yang ada di sekitar kita. Dosen saya, pernah menuliskan suatu kalimat dalam jejaring sosial yang agak menyinggung (memang sedikit banyak mslh agama, khususnya Islam, beliau noni #pdhlDosen) “kebersihan sebagian dari iman (whaaaaaattt????!!!)”. Saya menafsirkan seperti “umat islam ada hukumnya nih, tapi mana buktinya? Orang islam berarti nggak beriman doong wong bersih aja nggak…” Jika umat islam memang mengaku beriman, mengapa banyak yang tidak bersih? Sebagian itu tidak sedikit, separuh berarti 50% loh. Mari kita refleksikan diri lagi. Apakah terlahirnya kita di dunia ini mampu menjadi manfaat, tidak mengubah keadaan, atau malah menambah mudharat untuk dunia. Tetap optimis, karena dunia ini dinamis.

Mei 2012

-Icha

Sebuah Definisi

Kata mereka, bahagia itu adalah ketika kau berkumpul bersama dalam gurauan dan obrolan sembari di iringi alunan gitar. Tawa lepas itu bisa jadi cara paling ampuh untuk melupakan sejenak tekanan tekanan hidup, Mungkin.

Kalau kata dia, bahagia itu adalah sebuah rumah megah dengan perhiasan-perhiasan mengkilap di dalamnya. Tak lupa dengan kendaraan kendaraan pribadi yang harganya mahal.

Ada juga yang bilang, bahagia itu se-sederhana bisa melihat senyum-senyum tulus dari orang-orang di sekitar mereka.

Dari sebuah pertanyaan, bisa muncul beragam jawaban, tergantung kepada siapa kamu bertanya. Nyatanya tidak hanya itu, kesedihan, ketakutan, harapan, setiap orang berhak punya definisi masing-masing atas apapun. Tak ada yang absolut. Apapun sudut pandangmu tentang hal itu, itu terserah. Kamu punya hak penuh untuk memaknai mereka.

Pandangan kita akan kehidupan ini akan mencerminkan setiap tindakan dan sikap kita. Mengapa? sederhana, kalau kamu anggap sukses itu ada pada secarik kertas ujian dan klasemen peringkat akademis sekolahmu, bisa jadi kamu selalu terjaga setiap malam ditemani setumpuk buku-buku pelajaran, berlelah-lelah mengejar angka sembilan koma.

Definisimu akan kesuksesan dan kegagalan akan mempengaruhi semangat juangmu.

Definisimu tentang kecantikan dan ketampanan akan mempengaruhi penampilanmu.

Dari definisi-definisi kita akan sesuatu, disanalah tergambar arah hidup kita. Sekarang tinggal bagaimanakah kamu memaknai sesuatu di sekitarmu. Kalaupun kamu bukan seorang filsafat atau profesor, yang bisa merangkai definisi atas sesuatu, tak ada yang melarangmu untuk mengikuti definisi orang lain. Kalau kamu masih bingung arti dari pemimpin, coba tanyakan itu pada Umar Bin Khattab yang selalu memastikan tak ada rakyatnya yang lapar. Mungkin kamu dapatkan jawaban darinya. Kalau kamu masih bingung esensi dari prestasi, mungkin bisa kau bertanya pada Al-Fatih, sang penakluk muda yang tak pernah bolong shalat malamnya. Mungkin kamu dapatkan inspirasi darinya.

Dari sebuah definisi, sejatinya kita mulai mencipta langkah. Mau kau kemanakan langkahmu? Jannah-Nya atau Jahannam-Nya?


Alham Fikri Aji
The dreams of todays are the realities of tomorrow
www.badr-interactive.com

“Katakanlah, ‘Sesungguhnya, kematian yang kamu lari darinya, maka sesungguhnya kematian itu akan menemui kamu, kemudian kamu akan dikembalikan kepada (Allah), yang mengetahui yang gaib dan yang nyata, lalu Dia beritakan kepadamu apa yang telah kamu kerjakan.’” (QS. Al-Jumu’ah : 08 )

Kematian itu dekat. Hal itu baru kusadari ketika dia menghampiri orang yang paling kusayangi. Ketika dia merenggut dan merampas satu-satunya pria yang ada dalam keluarga kecil kami. Tepatnya, dua puluh satu Desember pukul 03.15 WIB, malaikat pencabut nyawa berkunjung ke rumah kami. Ya, tanggal itu dan waktu itu tak akan pernah terlupakan olehku. Dini hari, ibuku berlari tergesa-gesa ke kamarku dan kakakku. Aku terkejut, karena kulihat air mata keluar dari matanya dan dia terlihat begitu panik. ‘’De, papa… Kayaknya papa kambuh’’, katanya. Ya, ayahku memang diketahui mengidap penyempitan pembuluh darah di otak (kejang-kejang), semacam epilepsi hanya saja tak mengeluarkan buih dari mulutnya. Tapi, penyakit itu sudah 10 tahun lamanya tak terdeteksi lagi. Kami langsung berlari menuju kamar utama. Aku liat ayahku mengalami kejang-kejang, hanya saja kali ini lain. Wajahnya pucat membiru, mulutnya terbuka  (biasanya  saat kambuh mulutnya tertutup karena ayahku berusaha menahan rasa sakitnya). Aku tahu betul ini bukan kejang karena penyakitnya karena aku cukup terbiasa melihat kambuhnya penyakit ayahku sedari kecil. Saat itu matanya melihat kami. Lalu, saat melihat kami bertiga berkumpul, terdengar hembusan napas yang panjang dari ayahku. Kami masih berpikir kalau itu bukan awal keberangkatannya menuju negeri abadi karena biasanya setelah kambuh, ayahku akan berhenti bernapas selama beberapa detik, tapi itu biasa dan akan segera kembali mengambil napas panjang seakan hidup kembali. Namun, kali ini ia tak kunjung mengambil napas.

Dan datanglah sakaratul maut dengan sebenar-benarnya. Itulah yang kamu selalu lari daripadanya (QS.50:19)

Aku terus membangunkannya, memohon supaya ia kembali bernapas. Mulutnya perlahan-lahan menutup, aku berfikir ia telah kembali, tapi ritme napasnya tetap tidak ada. Dadanya tidak naik turun layaknya orang bernapas. Detak jantungnya pun tak terdengar lagi. Ketakutan mulai menghampiri kami. Logikaku mengatakan papa telah pergi, tapi hati dan perasaanku tak mau menuruti. Aku tetap yakin ia masih hidup. Aku keluar meminta bantuan tetangga dan mereka berusaha mencarikan dokter. Setelah meminta pertolongan, aku kembali ke sisi ayahku. Wajahnya yang tadinya membiru, kini mulai pudar dan tubuhnya mulai dingin. Matanya mulai terpejam. Konyolnya, aku menyelimuti ayahku dan memegangi tangannya, seakan tak ingin membiarkannya kedinginan. Padahal logikaku yakin bahwa ia telah tiada, tetangga-tetangga pun berusaha meyakinkan kami bahwa ia telah kembali ke sisi-NYA. Dokter (kebetulan ayah dari temanku) yang datang ke rumah juga mengatakan hal yang sama. Saat mendengar diagnosa dokter seakan petir menyambar kami, merusak akal pikiranku. Ibuku menangis tak percaya, kakakku menunduk lesu dan diam. Aku… jangan tanyakan besarnya kesedihanku saat  itu. Kupeluk jasad yang terbujur kaku itu dan menangis di sampingnya. Maklum, aku lumayan dekat dengan papa dibandingkan kakakku. Kadang sesuatu yang belum ia ceritakan pada mama, ia beritahukan aku terlebih dahulu. Password laptop dan komputer di kantornya sebagai bukti kedekatanku. Semuanya menggunakan namaku yang baru aku ketahui setelah rekan kerja papa yang menceritakan. Semua orang begitu terkejut mendengar kepergian ayahku. Semua sanak keluarga datang berkumpul. Bayangkan, omku yang sedang di Batam, Jambi, bahkan opah (nenek dalam bahasa melayu) yang sedang berlibur di Padang, kota kelahiran ayahku, langsung meluncur ke Jakarta. Sebelum ayahku dibawa dengan keranda menuju mesjid untuk disholatkan, sepupuku berkata, “Mba, liat deh pakde. Itu senyum kan? Pakde senyum kayaknya deh’’. Ya mungkin itu hikmahnya, keluargaku jadi berkumpul dengan formasi lengkap sehingga ayahku tersenyum bahagia. Semoga saja begitu. Hanya satu kecupan dariku di keningnya sebagai tanda aku ikhlas melepaskan ia untuk menemui ILLAHI RABBI. Toh ini cuma masalah waktu, aku pun akan menyusulnya jika tiba saatnya.

“Semua kejadian pasti berhikmah. Kejadian buruk belum tentu mendatangkan hal yang buruk pula’’.

Ada satu kalimat yang selalu terngiang-ngiang dari imam yang memimpin shalat jenazah ayahku, namun aku ragukan kebenarannya.  “Saya salut dengan keluarga almarhum karena begitu tabah melepas kepergiannya’’, katanya. Ingin rasanya aku langsung membalas, “Bukannya tabah pak, tapi kami memang terbiasa menangis tanpa suara.’’ Namun, aku urungkan. Masa’ iya saut-sautan dalam masjid ??? Ga mungkin kan? ‘TABAH’ dan ‘IKLHLAS’? Aku tak yakin ikhlas dan tabah benar-benar menghinggapi ku saat itu.

Sekarang, setiap kali teman-temanku becerita tentang ayahnya, aku hanya bisa tersenyum dan menceritakan kenangan yang aku punya selama 17 tahun lalu. Ya, Alhamdulillah Allah mengizinkan aku memilikinya di dunia selama itu. Senyumku memang berhasil membuat orang percaya bahwa aku adalah sosok yang tegar. Tapi mereka tidak tahu apa yang sebenarnya aku rasakan. Wong aku saja bingung mendefinisikan perasaanku. Semuanya bercampur menjadi satu. Rasa penyesalan karena belum menjadi anak yang berbakti dan bisa dibanggakan. Rasa marah karena dia tidak menepati janjinya untuk pergi ke rumah Allah dan kota kelahiran Rasulullah bersama-sama. Maklum saja, kami memang belum sempat pergi ke sana dengan formasi lengkap. Rasa rindu turut aku rasakan karena lama tak berjumpa. Tapi diantara semua rasa itu, terselip kebahagiaan karena Allah mengabulkan doaku, “Mengambilnya tanpa rasa sakit berkepanjangan dan berada disampingnya hingga akhir hayat’’. Proses itu memang terjadi begitu cepat dan aku tidak bisa mencegah ketetapan Allah tersebut. Tak peduli seberapapun besarnya rasa sayangku, ternyata Allah lebih menyayanginya.

Hampir satu setengah tahun lamanya dia meninggalkan dunia yang fana ini. Aku tak tahu apakah dia sudah berhasil menjawab pertanyaan malaikat munkar dan nakir dengan baii. Aku tak tahu gelap dan dinginnya di bawah sana. Aku hanya tahu bahwa aku harus melanjutkan hidupku. Life must go on, right? Ya, dia memang telah pergi dan serta merta membawa sekeping hatiku, tapi bukan berarti aku tak bisa hidup. Toh aku masih punya kepingan-kepingan yang lain. J

‘’Teman, saat kau sadari dalamnya cintamu untuk orang yang kau sayangi, kau dapati mereka telah pergi.’’

“Semua yang ada di bumi itu akan binasa. Dan tetap kekal Wajah Tuhanmu yang mempunyai kebesaran dan kemuliaan.” (TQS. Ar-Rahmaan: 26-27)

Pesan :

‘’Beruntunglah kalian yang masih mempunya orangtua lengkap. Sayangilah dia sehingga tidak ada rasa penyesalan diakhir. Kalau pun rasa penyesalan itu ada, jangan biarkan syaithan membuatmu berlarut-larut di dalamnya sehingga engkau menjadi orang yang kufur akan nikmat Allah SWT. Ciumlah mereka selagi mampu, tak perlu malu, sebelum ciumanmu tak cukup menghangatkannya dan membuatnya kembali ke sisimu.’’ Terimakasih sebanyak-banyaknya untuk teman-teman, rekan, kerabat dan saudara yang bersedia menyolatkan jenazah ayahku hingga dikebumikan. Semoga Allah SWT membalas kebaikan kalian dan mengabulkan setiap doa dan pengharapanmu. :)

PERCAYALAH, KARENA AKU TELAH MENGALAMINYA :)

©Yulia Nur Ulfa

Terkadang, kita berfikir bahwa untuk menghasilkan sesuatu yang besar kita harus menjadi orang besar. Kita menganggap bahwa dengan menjadi orang yang berkedudukan tinggi ataupun memiliki figuritas yang besar dapat menghasilkan pengaruh yang besar dan dapat mempengaruhi orang lain. Hal ini mungkin memang penting, tapi apakah ini menajdi yang utama? Dalam da’wah kita sering berucap bahwa kita harus menjadi seorang yang memiliki kedudukan tinggi jika da’wah kita mau didengar. Tapi, terkadang hal ini terlalu diutamakan sehingga kita rela mengorbankan segalanya demi merebut kekuasaan atau pengaruh bahkan terhadap hal paling fundamental yakni ibadah kita.

Tidak dipungkiri bahwa dengan kekuasaan kita memang bisa mempengaruhi seseorang. Tapi, apakah itu menjadi sesuatu yang melekat? Apakah ketika kekuasaan itu hilang orang yang terpengaruh terhadap kita tetap mengikuti kita? Saudaraku, Islam tidak dibangun atas sebuah doktrinasi ataupun paksaan (Q.S 2 : 256) tetapi Islam dibangun atas keimanan yang kuat, Tauhid yang menyeluruh, dan tentunya punya sebuah hikmah dalam penyampaiannya. Rasulullah Salallahu ‘alaihi wa sallam mengajarkan kepada kita bahwa beliau membangun masyarakat Islam dari bawah bagaimana beliau membina sebuah masyarakat menjadi sebuah masyarakat yang kuat dari segi keimanan dan ketaqwaan. Suatu hari melalui pamannya Abu Thalib beliau pernah ditawari 3 hal oleh orang kafir Quraisy wanita, tahta ,dan harta. Namun, beliau hanya menjawab “wahai pamanku, seandainya mereka memberikan matahari di tangan kananku dan bulan di tangan kiriku tapi bila tebusannya adalah da’wah maka aku tidak akan menerimanya”.

Bukan hanya tentang sebuah kekuasaan, tetapi juga sebuah figuritas. Terkadang kita juga mengorbankan segalanya demi meraih figuritas. Berapa banyak orang yang rela meninggalkan identitas keislamannya sehingga ia rela membaur secara berlebihan untuk mendapatkan sebuah figuritas di suatu golongan. Padahal, apakah figuritas harus didapat dengan cara berbaur berlebihan? Bukankah Rasulullah Salallahu ‘alaihi wa sallam pun menjadi publik figur tanpa harus mengorbankan identitasnya sebagai seorang Muslim? Apakah ini yang kita cari? Kita sedang mencari kekuasaan dan popularitas atau da’wah dan ridho Allah Subahanallahu wa Ta’ala? Ketahuilah saudaraku, jika kita beranggapan bahwa da’wah kita tidak diterima hanya karena kita tidak memiliki kekuasaan itu adalah sebuah hal yang tidak pantas sebab dimana pun posisi kita, kita wajib berda’wah. Begitu juga dengan figuritas jangan pernah beranggapan bahwa figuritas hanya bisa di dapat dengan membaur secara berlebihan sampai meninggalkan identitas kita sebagai muslim. Karena figur seorang muslim jauh lebih baik dari itu semua. Kenapa kita tidak menjadi seorang muslim sejati saja seperti yang dilakukan Rasululllah Salallahu ‘alaihi wa sallam, menjadi seorang yang jujur, tepat waktu, ramah, dermawan dll. Bukankah ini jauh lebih tepat?

Sejarah Islam telah mengajarkan kita bahwa jumlah, kekuasaan, dan kekuatan tidak akan berguna tanpa adanya pertolongan Allah Subahanallahu wa Ta’ala. Mulai dari kisah Rasulullah Salallahu ‘alaihi wa sallam yang telah saya ceritakan di atas, kemudian kisah beliau ketika perang Hunain hingga dikisahkan dalam Q.S 9 : 25, dilanjutkan pada sebuah kisah di zaman Khalifah Umar bin Khatab Radiyallahu Anhu ketika beliau memecat Khalid bin Walid sebagai panglima perang diakibatkan pada pasukan kaum muslim mulai muncul bibit-bibit kemusyrikan yang menganggap bahwa jika panglimanya adalah Khalid bin Walid maka pasukan akan selalu menang, serta yang terakhir adalah ketika pasukan Muhammad Al-fatih berhasil merebut Konstatinopel dan Rasulullah Salallahu ‘alaihi wa sallam menyebutnya sebagai sebaik-baik panglima dan pasukannya sebaik-baik pasukan. Sejarah selalu berulang dimana kekuatan keimanan selalu menang.

Lantas bagaimana hal ini bisa muncul diantara kita? Mungkin sebuah pertanyaan ini akan bisa menjawab. “Pada fasa apa kaum muslim memiliki kemajuan pesat atau bisa dikatakan paling berjaya?” mungkin banyak diantara kita yang menjawab pada fasa Bani Abasyiah saat pengetahuan maju atau saat Turki Utsmani ketika kita menjadi sebuah kekuatan yang amat ditakuti. Tapi, jawaban yang paling tepat adalah fasa Rasulullah Salallahu ‘alaihi wa sallam karena pada saat itulah tercipta generasi terbaik yang nyaris tak mungkin terulang lagi. Selama ini kita beranggapan bahwa suksesnya da’wah adalah ketika kita berhasil meraih kemajuan teknologi ataupun meraih sebuah kekuasaan. Itu semua sebenarnya adalah buah dari tujuan da’wah yang sebenarnya yakni menciptakan generasi terbaik. Wallahu ‘alam. Semoga ini bisa menjadi renungan bagi penulis.

Lukman Hakim

Istimewa

Kan kuutuskan salam ingatanku
Dalam doa kudusku sepanjang waktu
Ya Alloh bantulah hamba-Mu

Mencari hidayah dari pada-Mu
Dalam mendidikan kesabaranku

………………………………..

Aku berlindung kepada Allah SWT dari waktu luang yang sia-sia, kesombongan, dan perkataan yang tidak sesuai dengan perbuatan, semoga Allah SWT memantaskanku di tiap perjumpaan dengan mereka dan ada bekas-bekas kebaikan yang ditinggalkan. Amiin..

Bersyukur kita atas satu hal yang karenanya ukhuwah Continue Reading »